PHC Buktikan Hasil, Saatnya Petani Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair

Headline, Lampung47 Dilihat

Lampung — Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui program Desaku Maju kian menunjukkan dampak nyata di sektor pertanian. Salah satu inovasi unggulannya, Pupuk Hayati Cair (PHC), kini mulai mengubah cara bertani sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah.

PHC hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Dengan bahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti efektif meningkatkan kesuburan tanah. Di tengah mahal dan terbatasnya pupuk kimia, PHC menjadi alternatif yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

Sejak diluncurkan pada 2025, program ini telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi.

Hasilnya pun tidak main-main. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung sebesar 21,72 persen. Angka tersebut mencerminkan perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar klaim program.

Testimoni petani turut memperkuat keberhasilan ini. Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Kabupaten Lampung Utara, misalnya, mengaku hasil panen padi meningkat dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC. Sementara petani melon di Tanggamus menyebut kualitas buah lebih baik dan hasil panen meningkat signifikan dibandingkan pupuk konvensional.

Tak hanya meningkatkan hasil, PHC juga berdampak pada kesehatan tanaman. Daun terlihat lebih hijau, batang lebih kuat, serta serangan hama cenderung menurun. Ini menjadi bukti bahwa pendekatan organik bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan jangka panjang bagi pertanian berkelanjutan.

Lebih jauh, PHC menjadi bagian dari strategi besar membangun kemandirian desa. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pada 2027 seluruh 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri. Target ini disusun bertahap, mulai dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa di 2026, hingga menjangkau seluruh desa pada 2027.

BACA JUGA:  Penemuan Jasad di Sungai Way Cinta Gegerkan Warga Pringsewu

Jika target tersebut tercapai, dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi biaya dan stabilitas harga. Petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan pupuk dari luar, melainkan memiliki cadangan sendiri di tingkat desa.

Dari sisi ekonomi, PHC juga membuka peluang baru. Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga produsen input pertanian. Perputaran ekonomi pun terjadi di desa, memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Pendampingan teknis, konsistensi penggunaan, serta perubahan pola pikir petani menjadi kunci keberhasilan. Peralihan dari pupuk kimia ke organik membutuhkan proses, edukasi, dan pembuktian berkelanjutan—yang kini mulai terlihat.

Penghargaan KWP Award 2026 yang diraih Gubernur Lampung menjadi pengakuan atas arah kebijakan ini. Namun pada akhirnya, keberhasilan program akan ditentukan oleh sejauh mana PHC mampu bertahan dan berkembang di tingkat petani.

Desaku Maju bukan sekadar program, melainkan langkah strategis menuju masa depan pertanian yang mandiri dan berkelanjutan. PHC telah membuktikan potensinya.

Kini, pilihan ada di tangan petani: bertahan pada cara lama atau beralih menuju masa depan yang lebih efisien dan berdaya.

PHC bukan sekadar pupuk—ini adalah jalan baru bagi petani Lampung untuk maju. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *