Oleh: Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D.
Universitas Lampung (Unila) membutuhkan arah baru yang tidak sekadar mengejar pertumbuhan program dan reputasi, tetapi membangun kekuatan institusi yang berakar pada Lampung, mandiri secara finansial, berdampak bagi Indonesia, dan semakin terhubung dengan dunia.
Gagasan tersebut menjadi salah satu refleksi Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., Guru Besar Fisika Unila, dalam melihat masa depan kampus yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya sejak 1995.
Ia membuka pandangannya dengan sebuah ungkapan Prancis: Si Dieu me choisit et que cette responsabilité m’est confiée—jika Tuhan memilih saya dan amanah ini dipercayakan kepada saya.
Bagi Warsito, ungkapan itu bukanlah klaim atas hak istimewa untuk menduduki jabatan. Sebaliknya, kepemimpinan merupakan amanah. Proses harus dihormati dan siapa pun yang memperoleh kepercayaan harus bekerja untuk seluruh Universitas Lampung, bukan untuk kelompok tertentu.
“Universitas tidak dibangun oleh satu orang. Tantangannya adalah bagaimana kepakaran, sumber daya, aset, jejaring, dan energi institusi dapat diorkestrasi menjadi kekuatan bersama,” ujarnya dalam refleksi mengenai arah Unila ke depan.
Warsito memiliki pengalaman panjang di lingkungan Unila, mulai dari tingkat jurusan dan fakultas, pusat pengembangan kurikulum, Senat Universitas, hingga menjadi Dekan FMIPA. Pengalamannya kemudian diperluas melalui penugasan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris serta koordinasi kebijakan nasional di Kemenko PMK.
Dari perjalanan tersebut, ia menilai Unila tidak kekurangan orang-orang pintar. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menghubungkan potensi yang tersebar menjadi kekuatan institusional.
Memulai dari Diagnosis, Bukan Festival Program
Menurut Warsito, perubahan tidak seharusnya dimulai dengan berlomba menciptakan program baru. Langkah pertama justru harus berupa diagnosis berbasis data.
Seratus hari pertama, misalnya, dapat diarahkan sebagai fase konsolidasi untuk mengetahui kondisi nyata universitas. Audit cepat perlu dilakukan terhadap pengalaman belajar mahasiswa, mata kuliah yang menjadi hambatan, kelulusan tepat waktu, kapasitas laboratorium, fasilitas pembelajaran, layanan digital, mobilitas mahasiswa, prestasi, hingga pembelajaran di luar program studi.
Pada saat yang sama, perlu dipetakan pula klaster riset, talenta dosen dan tenaga kependidikan, portofolio kerja sama, aset universitas, unit layanan, sumber pendapatan non-UKT, serta kondisi tata kelola dan reformasi birokrasi.
“Tujuannya bukan menghasilkan tumpukan laporan, tetapi menghasilkan satu data, satu diagnosis, satu peta prioritas, dan satu dashboard transformasi yang dapat dibaca bersama,” katanya.
Pendidikan Tetap Menjadi Mesin Utama
Warsito menegaskan bahwa bisnis utama universitas tetaplah pendidikan tinggi. Karena itu, agenda kemandirian finansial tidak boleh menggeser mandat akademik.
Sebaliknya, pendapatan baru harus tumbuh dari kualitas pendidikan, kepakaran, penelitian, inovasi, dan layanan profesional yang sah serta akuntabel.
Ia melihat peluang melalui pendidikan berkelanjutan, microcredential, executive education, short course, sertifikasi kompetensi, pelatihan profesional, summer course, program internasional, pusat bahasa, dan pembelajaran digital sepanjang hayat.
Namun, pertumbuhan tidak boleh hanya diukur dari bertambahnya jumlah mahasiswa.
“Pertumbuhan jumlah mahasiswa adalah modal, tetapi tanpa daya dukung ruang, laboratorium, dosen, layanan digital, dan sistem akademik yang memadai, pertumbuhan justru dapat menekan mutu,” ujarnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan perlu diarahkan pada student success: kelulusan tepat waktu, kompetensi, employability, kewirausahaan, prestasi, mobilitas, pengalaman internasional, dan kemampuan bekerja lintas disiplin.
SDM sebagai Intellectual Capital
Bagi Warsito, dosen dan tenaga kependidikan merupakan modal intelektual utama universitas. Mereka tidak cukup hanya dihitung dari jumlah, tetapi harus dipetakan berdasarkan kepakaran, potensi, kebutuhan pengembangan, dan peluang kolaborasi.
Karena itu, ia mendorong talent mapping dan academic career acceleration yang sistematis.
Agenda tersebut dapat mencakup percepatan doktoralisasi, pendampingan jenjang akademik menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, academic mentoring, postdoctoral exposure, sabbatical, visiting researcher, grant-writing clinic, publication clinic, peningkatan kemampuan bahasa asing, penguatan kepemimpinan akademik, kompetensi digital tenaga kependidikan, talent pool, succession planning, serta penghargaan berbasis kinerja dan kontribusi.
Menurutnya, universitas kelas dunia tidak mungkin dibangun apabila SDM unggul berjalan sendiri-sendiri.
Dari Research University Menuju Impact University
Agenda riset juga perlu mengalami perubahan paradigma. Warsito mengusulkan agar Unila bergerak dari orientasi publish-oriented menuju impact-oriented, tanpa mengurangi pentingnya publikasi ilmiah.
Rantai nilai yang dibangun adalah masalah–riset–publikasi–inovasi–adopsi–dampak.
Hasil penelitian tidak selalu harus berujung pada produk komersial. Dampak dapat hadir melalui paten, prototipe, teknologi tepat guna, model tata kelola, standar, layanan profesional, policy brief, maupun rekomendasi kebijakan.
Yang terpenting, kata dia, harus ada pengguna, manfaat, dan perubahan yang dapat diukur.
Untuk itu, Unila perlu memperkuat research cluster berbasis kepakaran sekaligus persoalan strategis, antara lain pangan dan agroindustri, pesisir dan ekonomi biru, biodiversitas, energi bersih, kesehatan, lingkungan, teknologi dan digitalisasi, kebencanaan, tata kelola dan kebijakan publik, serta sosial-budaya.
Klaster tersebut harus memiliki kepemimpinan, anggota lintas disiplin, keterlibatan mahasiswa, fasilitas, mitra, target pendanaan, publikasi, HKI, hilirisasi, serta indikator dampak yang jelas.
Lampung sebagai Living Laboratory
Di sinilah Warsito menempatkan Lampung sebagai kekuatan strategis Unila.
“Lampung bukan sekadar tempat Unila berada; Lampung harus menjadi sumber ilmu pengetahuan Unila.”
Pertanian, pangan, pesisir, kelautan, kehutanan, biodiversitas, energi, kesehatan, industri, lingkungan, kebudayaan, hingga persoalan sosial dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi sivitas akademika.
Modelnya adalah menjadikan persoalan dan potensi Lampung sebagai sumber pertanyaan ilmiah. Unila menghadirkan pendekatan multidisiplin, sementara pemerintah, industri, masyarakat, dan komunitas menjadi mitra.
Mahasiswa belajar dari persoalan nyata, dosen melakukan riset, inovasi diuji, solusi yang berhasil direplikasi, dan dampaknya diukur.
Dengan model tersebut, akar lokal tidak menjadi penghambat untuk mendunia. Sebaliknya, kekuatan lokal menjadi sumber diferensiasi akademik dan keunggulan global.
Menciptakan Nilai, Bukan Sekadar Mencari Uang
Kemandirian finansial, menurut Warsito, memang penting. Namun, income generating tidak boleh diterjemahkan sebagai komersialisasi kampus atau menjadikan kenaikan beban mahasiswa sebagai jalan termudah membiayai pertumbuhan.
Pendapatan non-UKT harus lahir dari nilai yang diciptakan ilmu pengetahuan, kepakaran, inovasi, jejaring, dan pemanfaatan aset secara bertanggung jawab.
Sumber pendapatan dapat berasal dari pendidikan berkelanjutan, microcredential, sertifikasi, program internasional, hibah dan contract research, lisensi HKI, konsultansi, laboratorium pengujian, policy research, layanan profesional, teaching factory, living laboratory, pusat inovasi, fasilitas akademik, serta kemitraan dengan industri, pemerintah, BUMN/BUMD, lembaga internasional, alumni, filantropi, dan konsorsium.
“Optimalisasi bukan privatisasi dan bukan penjualan aset,” tegasnya.
Setiap rupiah yang dihasilkan harus kembali memperkuat Tri Dharma, mutu layanan, fasilitas, riset, inovasi, dan kesejahteraan sivitas akademika.
Dari Asset Ownership menuju Institutional Orchestration
Unila, menurut Warsito, sebenarnya memiliki modal yang besar: SDM akademik, mahasiswa, alumni, program studi, laboratorium, unit layanan, jejaring pemerintah dan industri, mitra internasional, serta aset institusi.
Namun, pertanyaan strategis tidak lagi berhenti pada apa yang dimiliki.
“Pertanyaan kita bukan lagi apa yang dimiliki Unila, melainkan nilai apa yang dapat diciptakan dari semua yang kita miliki.”
Di sinilah ia menawarkan pergeseran dari asset ownership menuju institutional orchestration.
Rektor, dalam kerangka tersebut, tidak harus menjadi operator seluruh kegiatan. Peran yang lebih penting adalah menjadi chief orchestrator yang memastikan sumber daya universitas dapat bekerja sebagai sebuah ekosistem.
Fakultas tetap memiliki kekuatan dan otonomi akademik, sementara universitas menyediakan platform kolaborasi, data, insentif, tata kelola, dan jejaring agar kekuatan masing-masing unit dapat berkembang secara lebih besar ketika dihubungkan.
Kemandirian Harus Berjalan Bersama Integritas
Semakin besar sumber pendapatan dan kerja sama yang dibangun, semakin kuat pula tata kelola yang diperlukan.
Karena itu, kemandirian harus berjalan bersama transparansi, audit, dashboard kinerja, pengendalian konflik kepentingan, merit system, pengendalian internal, zona integritas, standar layanan, dan evaluasi terbuka.
“Kemandirian tanpa integritas berbahaya; integritas tanpa kapasitas eksekusi juga tidak cukup,” ujar Warsito.
Pengalaman di kampus, diplomasi pendidikan, dan koordinasi kebijakan nasional membuatnya meyakini pentingnya kepemimpinan kolaboratif yang tetap tegas.
Prinsip harus tegas, sikap santun, dan tindakan adil. Keputusan akademik harus berbasis merit dan data, sementara perbedaan pandangan perlu dikelola sebagai bagian dari tradisi ilmiah, bukan menjadi alasan untuk memecah komunitas akademik.
Dari Lampung Menuju Dunia
Bagi Warsito, internasionalisasi tidak boleh dimulai dari kosmetik pemeringkatan.
Urutannya harus jelas: local relevance, national contribution, global recognition.
Reputasi global harus menjadi akibat dari mutu, bukan sekadar branding.
Pengalaman selama bertugas di Paris memperkuat keyakinannya bahwa internasionalisasi yang substantif harus melahirkan joint research, co-supervision, visiting professor, visiting researcher, mobilitas mahasiswa, publikasi bersama, konsorsium hibah, dan jejaring diaspora.
Dengan demikian, jejaring global bukan sekadar prestise. Ia harus memperbesar manfaat bagi Unila dan Lampung.
Jika pengetahuan yang lahir dari Lampung mampu menjawab persoalan di tempat lain, maka keunggulan lokal telah berubah menjadi kontribusi global.
Peta Jalan 2027–2031
Transformasi, menurut Warsito, perlu memiliki tahapan yang jelas.
Tahun 2027 menjadi fase diagnose and consolidate, dengan fokus pada audit, baseline, pemetaan talenta, riset, aset, dan penguatan tata kelola.
Tahun 2028 diarahkan pada connect and accelerate, yakni menghubungkan SDM, riset, mahasiswa, mitra, aset, dan program.
Tahun 2029 menjadi fase innovate and scale, dengan memperluas hilirisasi, teaching factory, living laboratory, layanan profesional, dan program global.
Tahun 2030 diarahkan pada internationalize and multiply impact, melalui perluasan jejaring riset, mahasiswa internasional, dan kemitraan global.
Sementara 2031 menjadi fase institutionalize and sustain, ketika model-model yang terbukti berhasil dijadikan sistem sehingga tidak bergantung pada siapa yang menjabat sebagai rektor.
“Warisan kepemimpinan bukan program yang memakai nama pemimpin, tetapi sistem yang tetap bekerja setelah pemimpinnya selesai,” kata Warsito.
Jika Amanah Itu Diberikan
Pada akhirnya, gagasan yang ditawarkan Warsito berangkat dari satu keyakinan: Unila tidak boleh bergantung kepada seorang rektor.
Jika amanah kepemimpinan itu diberikan kepadanya, ia ingin membangun sistem yang memungkinkan ribuan orang hebat di dalam Unila bekerja lebih baik secara bersama-sama.
Unila yang kuat secara akademik, sehat organisasinya, unggul SDM-nya, produktif asetnya, mandiri pendanaannya, bersih tata kelolanya, kuat jejaringnya, dan nyata dampaknya.
Bukan lebih banyak slogan yang ingin ditinggalkan, melainkan kapasitas institusi yang lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri.
Berakar di Lampung. Berdampak bagi Indonesia. Berjejaring dengan dunia.
Penulis adalah Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., Guru Besar Fisika Universitas Lampung dan saat ini menjabat Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Kemenko PMK RI.
Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih tajam seperti berita opini media nasional, dengan lead yang lebih “menggigit”, judul lebih provokatif, dan panjang sekitar 800–1.200 kata.







