Grup Media di Lampung Diteror Puluhan Paket Misterius

Headline93 Dilihat

Lampung — Aksi intimidasi terhadap kebebasan pers kembali mencuat. Setelah sebelumnya kantor Tempo menerima kiriman kepala babi pada Maret 2025, kini teror serupa dengan pola berbeda menyasar perusahaan pers daerah.

Grup perusahaan media Djadin Media Grup yang berbasis di Lampung menjadi target serangan beruntun, mulai dari serangan siber hingga intimidasi fisik berupa kiriman paket misterius.

Serangan pertama muncul dalam bentuk Distributed Denial of Service (DDoS) yang mencoba melumpuhkan sedikitnya delapan situs yang berada di bawah naungan grup tersebut. Situs-situs seperti Lampung Insider, Pantau Media, Pantau Finance, Muda Belia, Samudera News, Djadin Media, Pesawaran Inside, hingga Inside Politik menjadi sasaran.

Namun, upaya tersebut dinilai gagal total. Serangan tidak mampu melumpuhkan seluruh sistem secara bersamaan, sehingga operasional media masih dapat berjalan.

Diduga frustrasi dengan hasil serangan siber yang tidak maksimal, pelaku kemudian meningkatkan aksinya ke bentuk intimidasi langsung.

Pada Senin, 13 April 2026, pimpinan Djadin Media Grup, Arief Mulyadin, menerima puluhan paket misterius yang dikirim menggunakan metode bayar di tempat (COD).

“Jelas ini teror. Waktunya berbarengan dengan pemberitaan dan serangan DDoS sebelumnya. Karena tak mampu melumpuhkan situs kami, mereka mencoba cara lain untuk mengintimidasi,” ujar Arief.

Ia mengaku menolak seluruh paket tersebut dan meminta kurir mengembalikannya, karena tidak pernah merasa melakukan pemesanan.

Yang membuat situasi semakin janggal, pelaku diduga menggunakan foto lama Arief sebagai profil dalam aplikasi pengiriman online.

“Ini cukup niat. Ada upaya intimidasi psikologis. Tidak mungkin dilakukan sembarangan, pasti ada kepentingan tertentu,” ungkapnya.

Arief juga menyinggung kemungkinan adanya keterkaitan antara teror ini dengan pemberitaan yang dianggap sensitif, termasuk isu kerenggangan hubungan antar elite penguasa.

BACA JUGA:  Soal Pengelola Baru Parkir Pasar Inpres Kalianda, Ketua AKLI Lamsel: Saya Nggak Yakin Isu Arahan Bawa Nama Bupati

Menurutnya, rangkaian kejadian ini menjadi sinyal lemahnya perlindungan terhadap kebebasan pers dan hak berpendapat di Indonesia.

“Teror kepada kami, juga yang sebelumnya terjadi pada Tempo dan Andrie Yunus, adalah cerminan bahwa negara belum mampu menjamin rasa aman bagi warga dan jurnalis,” tegasnya.

Meski sempat muncul kekhawatiran isi paket berbahaya seperti kasus sebelumnya, Arief menyebut berdasarkan keterangan luar paket, barang yang dikirim bertuliskan “ikan lele” dan “anime Jepang”.

Namun demikian, ia menilai bentuk teror seperti ini tetap tidak bisa dianggap remeh.

“Apa pun isinya, cara-cara seperti ini tidak pantas, apalagi jika benar dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Itu mencederai sumpah jabatan dan nilai demokrasi,” pungkasnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa ancaman terhadap kebebasan pers tidak hanya datang dari ruang digital, tetapi juga dapat menjelma menjadi tekanan psikologis di dunia nyata. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *