Unila Gandeng Korporasi Korea Selatan Kembangkan Pelet Biomassa Sawit Ramah Lingkungan

Berteknologi Rendah Abu

Bandar Lampung, – Universitas Lampung (Unila) kembali menunjukkan kiprahnya di panggung internasional. Melalui Fakultas Pertanian, Unila menjalin kerja sama riset strategis dengan perusahaan asal Korea Selatan, Naysor Co., Ltd., untuk mengembangkan pelet biomassa berbahan tandan kosong kelapa sawit (Empty Fruit Bunches/EFB) berteknologi rendah abu sebagai solusi energi hijau masa depan.

Kolaborasi internasional ini menjadi langkah penting dalam mendorong hilirisasi hasil riset kampus menuju skala industri. Fokus penelitian diarahkan pada pengembangan proses manufaktur komersial pelet biomassa yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Ketua Tim Joint Research sekaligus Guru Besar Fakultas Pertanian Unila, Prof. Udin Hasanudin, mengatakan kerja sama tersebut merupakan upaya nyata menjawab tantangan krisis energi global melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, inovasi utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi wet ash removal untuk menghasilkan EFB-based ashless pellets, yakni pelet biomassa dengan kadar abu sangat rendah namun memiliki nilai kalor yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk konvensional.

“Produk yang kami kembangkan memiliki kadar abu yang sangat rendah sehingga mampu meningkatkan efisiensi pembakaran. Selain itu, pelet biomassa ini dirancang untuk meminimalkan gangguan pada boiler industri seperti slagging dan fouling yang selama ini menjadi kendala utama penggunaan biomassa sawit,” ujar Prof. Udin.

Selama ini, pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan bakar biomassa masih menghadapi tantangan besar akibat tingginya kandungan mineral alkali seperti kalium, natrium, silika, dan klorin. Kandungan tersebut dapat menyebabkan terbentuknya kerak dan korosi pada boiler industri, sehingga menurunkan efisiensi operasional sekaligus meningkatkan biaya perawatan.

Melalui pendekatan ilmiah yang dikembangkan tim peneliti Unila, teknologi wet ash removal memanfaatkan metode pencucian berbasis air (leaching) untuk mengurangi kandungan mineral alkali dan abu secara signifikan. Hasilnya, biomassa yang dihasilkan menjadi lebih bersih, memiliki performa pembakaran lebih baik, serta lebih aman digunakan pada pembangkit maupun industri.

BACA JUGA:  Dukung Aksi Konservasi, Brand Kini Bisa Pilih Skema CSR Bersama LindungiHutan

Kerja sama dengan Naysor Co., Ltd. yang berbasis di Seoul juga menjadi bukti meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap kualitas riset yang dihasilkan Unila. Kolaborasi ini membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi energi terbarukan berbasis sumber daya lokal Indonesia.

Tak hanya berorientasi pada inovasi teknologi, proyek riset ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi produk komersial yang mendukung pengembangan energi bersih, meningkatkan nilai tambah limbah kelapa sawit, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Dengan langkah ini, Unila semakin menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang mampu menghadirkan solusi ilmiah bagi tantangan energi dan lingkungan di tingkat global. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *