Bandar Lampung, — Prof. Warsito resmi menyerahkan dokumen pendaftaran sebagai Bakal Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031. Langkah tersebut dilakukan dengan sederhana, tenang, dan penuh kesadaran akan tanggung jawab akademik yang menyertainya.
Prof. Warsito berangkat dari Kantor Jurusan Fisika FMIPA Unila didampingi tiga guru besar, yakni Prof. Mustofa Usman, Prof. Endang, dan Prof. Sutiarso, serta dua orang staf.
Sebelum menuju Gedung Rektorat Unila, rombongan terlebih dahulu menunaikan salat Zuhur, berdoa, dan makan siang bersama. Setelah itu, rombongan bergerak menuju Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor (Panlih) di lantai 3 Gedung Rektorat Unila.
Bagi Prof. Warsito, pendaftaran tersebut bukan sekadar pemenuhan tahapan administratif. Ia memaknainya sebagai bentuk menjalankan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.
“Saya melaksanakan amanah yang diberikan kepada saya.”
Kalimat tersebut menjadi landasan sikap Prof. Warsito dalam mengikuti seluruh proses pemilihan Rektor Unila.
Diterima Ketua dan Sekretaris Senat serta Panitia Pilrek
Tepat pukul 13.00 WIB, rombongan Prof. Warsito diterima di Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor oleh Ketua dan Sekretaris Senat Universitas Lampung serta Ketua dan Sekretaris Panitia Pemilihan Rektor.
Pertemuan berlangsung tertib dan penuh penghormatan terhadap mekanisme kelembagaan.
Sebanyak 13 formulir beserta dokumen persyaratan pendaftaran diserahkan kepada Panitia Pemilihan Rektor. Berdasarkan verifikasi awal, seluruh dokumen yang disampaikan dinyatakan lengkap.
Ketua Senat Unila dalam sambutannya menyampaikan penerimaan sekaligus apresiasi atas kesediaan Prof. Warsito mengikuti proses pencalonan Rektor Unila periode 2027–2031.
Menyerahkan Rekam Jejak Akademik dan Manajerial
Dokumen yang diserahkan Prof. Warsito tidak hanya berisi persyaratan administratif, tetapi juga merepresentasikan rekam jejak akademik dan pengalaman kepemimpinan yang telah dijalaninya selama berkarier di dunia pendidikan tinggi.
Di antara dokumen tersebut terdapat SK jabatan fungsional terakhir, termasuk SK Profesor dengan angka kredit 1.050, serta SK kenaikan pangkat Pembina Utama, golongan IV/e.
Selain itu, diserahkan pula dokumen yang menunjukkan pengalaman manajerial dan kepemimpinan Prof. Warsito, antara lain sebagai Sekretaris Jurusan Fisika, Ketua Jurusan Fisika, Pembantu Dekan I FMIPA, Kepala Pusat Kurikulum LP3M, Ketua Senat, Dekan FMIPA, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Paris, serta Deputi di Jakarta.
Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan perjalanan kepemimpinan yang tumbuh secara bertahap, mulai dari ruang akademik, pengelolaan program studi dan fakultas, kepemimpinan kelembagaan universitas, hingga penugasan pada tingkat internasional dan nasional.
Pemilihan Rektor sebagai Proses Akademik
Ketua Panitia Pemilihan Rektor selanjutnya menyampaikan tahapan verifikasi dan agenda lanjutan dalam proses pemilihan Rektor Unila.
Salah satu tahapan berikutnya adalah tes kesehatan fisik dan psikologi yang dijadwalkan sekitar 5–10 September 2026. Tahapan tersebut merupakan bagian dari mekanisme yang harus dilalui seluruh bakal calon sesuai ketentuan yang berlaku.
Prof. Warsito menyambut seluruh tahapan tersebut secara terbuka dan menghormati mekanisme kelembagaan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, proses pemilihan Rektor harus dilaksanakan secara baik, transparan, berintegritas, dan bermartabat. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan para kandidat, tetapi juga kehormatan Universitas Lampung sebagai institusi pendidikan tinggi.
Ajak Putra-Putri Terbaik Unila Berpartisipasi
Dalam sambutan akhirnya, Prof. Warsito menyampaikan terima kasih atas sambutan dan penerimaan yang diberikan Ketua dan Sekretaris Senat serta Panitia Pemilihan Rektor.
Ia berharap seluruh tahapan pemilihan Rektor dapat berjalan dengan baik dan menjunjung tinggi integritas.
Menariknya, Prof. Warsito tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya pilihan. Ia justru mengajak putra-putri terbaik Universitas Lampung untuk turut berpartisipasi dalam proses pencalonan.
“Saya mengajak putra-putri terbaik Unila untuk berpartisipasi sebagai bakal calon Rektor, agar Unila yang kita cintai semakin lebih baik.”
Pernyataan tersebut menunjukkan pandangan bahwa kepemimpinan universitas bukanlah milik seseorang atau kelompok tertentu. Universitas Lampung memiliki banyak akademisi dengan kapasitas, pengalaman, gagasan, dan rekam pengabdian yang dapat dipersembahkan bagi kemajuan institusi.
Dari Jurusan Fisika, Kembali kepada Almamater
Ada makna simbolik dalam perjalanan Prof. Warsito pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Langkahnya dimulai dari Jurusan Fisika FMIPA Unila, tempat perjalanan akademiknya dibangun. Dari lingkungan tersebut, ia menjalani berbagai ruang pengabdian yang membentuk pengalaman kepemimpinannya hingga mendapat penugasan pada tingkat nasional.
Kini, ia kembali mengambil bagian dalam proses kepemimpinan almamater.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan dari satu gedung ke gedung lainnya. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi simbol seorang akademisi yang kembali dari ruang ilmu dan pengabdian untuk memberikan kontribusi bagi rumah akademiknya sendiri.
Jabatan adalah Amanah
Di balik penyerahan berkas pada pukul 13.00 WIB, terdapat pesan yang lebih besar mengenai makna kepemimpinan.
Bagi Prof. Warsito, jabatan akademik maupun birokrasi bukan sekadar deretan posisi dalam daftar riwayat hidup. Setiap jabatan membawa amanah dan tanggung jawab.
Dari Sekretaris Jurusan hingga Dekan, dari Ketua Senat hingga penugasan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Paris, kemudian sebagai Deputi di Jakarta, setiap tahap memberikan pengalaman sekaligus tanggung jawab yang berbeda.
Kini, ketika kesempatan untuk kembali mengabdi di almamater terbuka, Prof. Warsito memilih menjawabnya dengan mengikuti proses yang telah ditetapkan.
Yang Harus Dijaga adalah Unila
Pemilihan Rektor pada akhirnya bukan semata-mata tentang memenangkan seseorang atas orang lain. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan Universitas Lampung memperoleh pemimpin terbaik untuk membawa institusi ke arah yang lebih baik.
Perbedaan gagasan merupakan keniscayaan dalam kehidupan akademik. Perbedaan pilihan juga menjadi bagian dari proses demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan persaudaraan sebagai sesama insan akademik dan keluarga besar Universitas Lampung.
Sebab, setelah seluruh tahapan pemilihan selesai, para kandidat akan kembali menjadi bagian dari rumah yang sama.
Rumah itu adalah Universitas Lampung.
Dan rumah tersebut jauh lebih besar daripada kepentingan siapa pun.
Menutup dengan Kerendahan Hati
Menjelang akhir pertemuan, Prof. Warsito menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses pendaftaran maupun perjalanan tim terdapat kekurangan atau kesalahan.
Ungkapan tersebut menjadi cerminan bahwa perjalanan menuju sebuah tanggung jawab kepemimpinan tidak harus dimulai dengan kesempurnaan. Ia dapat dimulai dengan ketulusan dan kerendahan hati.
Selasa, 18 Agustus 2026, menjadi penanda penting dalam proses pencalonan Rektor Unila periode 2027–2031. Dokumen telah diserahkan, verifikasi awal dinyatakan lengkap, dan tahapan berikutnya telah menanti.
Namun bagi Prof. Warsito, perjalanan ini bukan semata-mata tentang menuju sebuah jabatan.
Ini adalah tentang menjawab amanah, memberikan kembali pengalaman dan pengetahuan kepada almamater, serta menjaga agar proses kepemimpinan Universitas Lampung tetap berada dalam koridor integritas, keilmuan, persaudaraan, dan pengabdian. (*)







