Menu MBG Diduga Tak Layak, Satgas Sekincau Siapkan Teguran Keras untuk SPPG Sekincau 1

Lampung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sekincau kembali menjadi sorotan publik setelah menu makanan yang dibagikan kepada siswa dinilai tidak layak dan jauh dari harapan masyarakat. Polemik ini mencuat setelah foto dan keluhan terkait menu tersebut viral di media sosial pada Kamis, 5 Maret 2026.

Menu yang dibagikan oleh penyelenggara SPPG Sekincau 1 terdiri dari satu kotak susu UHT kemasan, satu buah salak, satu roti pisang, dan satu bungkus kacang dengan nilai pagu anggaran Rp8.800 per porsi. Namun, sejumlah pihak menilai komposisi tersebut belum mencerminkan standar pemenuhan gizi bagi anak sekolah.

Menanggapi hal itu, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kecamatan Sekincau memastikan akan memberikan teguran tertulis kepada penyelenggara pada Senin mendatang sebagai bentuk evaluasi serius terhadap pelaksanaan program tersebut.

Ketua Satgas MBG Kecamatan Sekincau, Heptanius Hidayat, S.P, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil setelah pihaknya menerima berbagai laporan dari masyarakat serta orang tua siswa terkait kualitas makanan yang dibagikan.

“Rencananya pada hari Senin nanti kami akan memberikan teguran tertulis kepada pihak SPPG. Ini sebagai bentuk pembinaan sekaligus peringatan agar pelaksanaan program MBG ke depan benar-benar sesuai dengan standar gizi dan ketentuan yang telah ditetapkan,” ujar Heptanius, Sabtu (7/3/2026).

Sorotan masyarakat semakin kuat setelah diketahui tidak ada perbedaan antara porsi besar dan porsi kecil dalam pembagian menu. Padahal, pembagian porsi seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan gizi siswa berdasarkan usia dan tingkat pendidikan.

Keluhan juga ramai bermunculan di media sosial. Salah satu akun Facebook, @Azril Husna, bahkan mengunggah kritik terkait kondisi roti pisang yang dibagikan kepada siswa.

“Bolu pisangnya masih mentah, pisangnya busuk, alhasil tidak dimakan,” tulisnya dalam unggahan yang kemudian menyebar luas di dunia maya.

Tak hanya roti, beberapa orang tua siswa juga mengeluhkan kondisi buah salak yang diterima anak-anak mereka dalam keadaan busuk. Akibatnya, banyak siswa yang memilih tidak mengonsumsi makanan tersebut.

BACA JUGA:  Cardano vs Ripple: Komparasi Lengkap untuk Investor Kripto Pemula dan Pro!

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan kualitas makanan dalam program MBG yang sejatinya dirancang sebagai program strategis untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah.

Satgas MBG Kecamatan Sekincau menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Selain memberikan teguran tertulis, pihaknya juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Sekincau, mulai dari penyusunan menu hingga sistem pengawasan distribusi makanan di sekolah.

“Program ini sangat baik untuk anak-anak. Karena itu pelaksanaannya harus benar-benar dijaga. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali dan menimbulkan polemik di masyarakat,” kata Heptanius.

Ia juga menambahkan bahwa persoalan ketiadaan perbedaan porsi menu dengan pagu anggaran Rp8.800 per porsi turut menjadi perhatian serius dan akan dimasukkan dalam poin teguran kepada penyelenggara.

“Hal tersebut juga akan kami masukkan dalam teguran dan nantinya akan kami laporkan serta serahkan kepada Satgas MBG Kabupaten untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.

Satgas MBG Kecamatan Sekincau pun mengingatkan seluruh penyelenggara program agar tidak mengabaikan standar kualitas menu dan gizi. Jika pengawasan tidak dilakukan secara serius, program yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat. (Wahdi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *