Hari Ulos Nasional : Ulos Warisan Budaya Toba

Hari Ulos Nasional : Ulos Warisan Budaya Toba

285
0
BERBAGI
Tobatenun

Jakarta, (Warta Viral) – Tradisi bertenun ulos di Tanah Batak merupakan tradisi yang sudah berlangsung selama ribuan tahun di seluruh kawasan Danau Toba dan memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi tenun ikat di berbagai belahan nusantara.
Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi bertenun ulos ini secara terus-menerus tergerus oleh tuntutan pasar.

Perlu upaya serius agar tradisi ini tidak hilang dan punah, karena itulah diperingatan Hari Ulos Nasional yang jatuh pada 17 Oktober 2021, Tobatenun bekerjasama dengan Kementerian Ketenagakerjaan memperkenalkan kain ulos ke pasar internasional.

Kampanyenya sendiri sudah dimulai secara virtual sejak pada 15 hingga 17 Oktober 2021 dengan tema ‘Bangga Bertenun Bangga Berbudaya’.

Dalam virtual press conference itu, menghadirkan Kerri Na Basaria, Founder dan CEO PT Toba Tenun Sejahtra, Dr Eddy Keleng Ate Berutu (Bupati Kabupaten Dairi, Sumatera Utara), Dita Indah Sari (Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan RI), dan Myra Widiono (Ketua Perkumpulan Warna Alam Indonesia).

Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan, Dita Indah Sari mengatakan, selain skill menenun ditingkatkan, juga kemampuan mereka mendesain kain tenun menjadi barang fesyen atau barang fesyen yang dikombinasikan sehingga colorfull,” kata Dita dalam konferensi pers, Sabtu (16/10).

“Kerja sama antara Kemnaker dengan Tobatenun ini adalah perwujudan dari program perluasan kesempatan kerja yang dimiliki Kemnaker untuk melatih, membina dan manajemen pemasaran para perajin ulos di sekitar danau Toba,” tutur Dita.
Menurut Dita, para penenun yang sudah bergelut menjalani profesinya sejak lama juga perlu mendapatkan pengakuan salah satunya melalui pemberian sertifikasi.

Indonesia saat ini sudah memiliki standar kompetensi kerja nasional khusus bidang tenun tradisional. Dengan standar ini, maka ada bekal dalam pembuatan program pelatihan hingga pengembangan instruktur latih.

Pentingnya bantuan dari sisi pembiayaan dan pendampingan juga penting. Hal ini untuk membantu para penenun agar bisa lebih mandiri dan memiliki daya tawar terhadap para tengkulak, ujar Dita.

Bupati Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Eddy Keleng Ate Berutu mengatakan, bergantungnya para penenun pada penyuplai dana dengan tawaran bunga sangat tinggi menyebabkan ekonomi mereka tidak bisa bertumbuh.

Dari sisi pemasaran, ketergantungan pada tauke membuat penenun tidak berdaya menunjukkan daya tawar.

Founder & CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria mengatakan, pelaku dan perajin yang seringkali terlupakan dalam pelestarian budaya. Padahal, menurut dia, upaya pelestarian budaya harus jalan bersamaan dengan upaya perubahan sosial dan pemahaman keseimbangan antara modernisasi dan budaya diperlukan untuk kebaikan di masa depan.

Hanya saja, dia menyadari, sebenarnya masih ada tantangan yang dihadapi para pelaku dan penenun ini, mulai dari kemiskinan, eksploitasi oleh pengepul, tidak menerima upah layak dan banyaknya isu sosial yang kompleks yang datang dari kemiskinan.

Dia kemudian bersama para mitranya berusaha membuka peluang melalui sebuah wadah pelatihan yang juga menjadi sarana pembelajaran dan pendidikan bagi penenun yang kurang mempunyai kesempatan, sekaligus mendampingi mereka sehingga diharapkan berujung pada suatu community development yang sehat atau tidak bersifat eksploitatif.

Dari sisi produksi Ulos, Kerri berfokus pada revitalisasi budaya wastra ke akarnya, menggunakan material alam, serat, pewarnaan maupun teknik yang menurut dia saat ini sudah banyak hilang dan hampir punah.

“Kami mendorong digunakannya pembuatan tenun yang bertanggung jawab pada lingkungan dan pembuatan ramah lingkungan yang mengutamakan prinsip berkelanjutan,” pungkasnya. (Rekson Pasaribu)

TIDAK ADA KOMENTAR

Comments are closed.