TPS Beringin Jaya Overload, Bau Menyengat dan Ancaman Banjir Resahkan Warga Kemiling

Headline, Lampung34 Dilihat

Bandar Lampung – Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Beringin Jaya di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas (overload) hingga memicu keluhan warga. Tumpukan sampah yang meluber dari kontainer menimbulkan bau menyengat, mengganggu aktivitas masyarakat, pedagang, hingga pengguna lapangan olahraga di sekitar lokasi.

Kondisi tersebut terungkap dalam hasil penelitian sekelompok mahasiswa pada Juni 2026 yang dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan warga sekitar TPS.

Berdasarkan data yang dihimpun, timbulan sampah di Kelurahan Beringin Jaya diperkirakan mencapai 7.040 kilogram per hari. Namun kapasitas kontainer TPS dinilai tidak lagi mampu menampung volume sampah yang terus meningkat, sehingga sampah kerap meluber ke luar area penampungan.

Warga menilai persoalan bukan hanya terletak pada ukuran kontainer, tetapi juga keterlambatan armada pengangkut menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bakung. Saat truk mengalami kerusakan atau terlambat beroperasi, sampah bisa menumpuk selama dua hingga tiga hari.

Meski secara administrasi pengangkutan dijadwalkan berlangsung dua hingga tiga kali setiap hari, temuan di lapangan menunjukkan adanya perbedaan persepsi. Sebagian warga menilai armada cukup rutin beroperasi, sementara pedagang di sekitar TPS mengaku jarang melihat truk pengangkut pada siang hari dan menduga pengangkutan lebih sering dilakukan malam hari.

Penelitian tersebut juga mengungkap belum optimalnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Sampah rumah tangga masih bercampur antara organik dan anorganik, sehingga proses pemilahan baru dilakukan setelah sampah tiba di TPS. Sebagian sampah organik bahkan masih dimusnahkan dengan cara dibakar.

Di sisi lain, keberadaan Bank Sampah Beringin Jaya yang telah memiliki fasilitas sejak 2019 belum mampu berfungsi maksimal. Keterbatasan modal dan lemahnya koordinasi membuat bank sampah tersebut belum optimal mengelola sampah warga, bahkan lebih banyak menerima sampah bernilai ekonomis dari luar wilayah.

BACA JUGA:  Wagub Lampung Pimpin Apel Gabungan Perdana, Tekankan Profesionalisme ASN

Warga juga mengeluhkan bau menyengat yang dapat tercium hingga sekitar 100 meter ketika musim hujan atau saat sampah menumpuk. Selain itu, pembakaran sampah tanpa pemilahan serta aliran air lindi yang bercampur luapan sungai saat hujan deras dikhawatirkan dapat memperburuk kualitas lingkungan dan meningkatkan risiko banjir.

Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa sejumlah keluhan warga, seperti radius penyebaran bau maupun dugaan kandungan berbahaya dari asap pembakaran, masih berupa persepsi masyarakat dan memerlukan verifikasi ilmiah melalui pengukuran kualitas udara dan lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan penguatan edukasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga, peningkatan kapasitas dan manajemen armada pengangkut, revitalisasi Bank Sampah sesuai ketentuan, penguatan koordinasi antara pengelola TPS, Dinas Lingkungan Hidup, dan pemerintah kelurahan, serta pemantauan berkala terhadap kapasitas TPS dan kualitas lingkungan.

“Temuan di lapangan menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara data literatur dan kondisi riil. Karena itu diperlukan pembaruan data serta verifikasi berkala agar kebijakan pengelolaan sampah benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan,” demikian kesimpulan yang disampaikan tim peneliti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *