Tapteng, (Warta Viral) – Jenderal TNI Maraden Saur Halomoan Panggabean adalah salah seorang tokoh militer Indonesia yang pernah menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan II serta Menteri Koordinator Politik dan Keamanan dalam Kabinet Pembangunan III dalam bukunya mengatakan Pasukan Sektor IV di bawah pimpinan Kapten Bongsu Pasaribu terus menerus menyerang pos Belanda di Barus dan Sorkam.

Serangan terakhir yng dilakukan Kapten Bongsu Pasaribu adalah pada permulaan bulan Maret 1949, dan tidak sedikit jumlah korban yang jatuh dipihak Belanda. Belanda tampaknya bernapsu sekali menangkapnya, karena dia yang dianggap penggerak utama dari perlawanan di sekitar daerah tersebut. Karena Kapten Bongsu dalam Patroli mereka sangat rapat dan intensif.

“Saya sangat kesal dan sedih, dua atau tiga minggu kemudian saya mendapat laporan, bahwa patroli Belanda menyergap Kapten Bongsu Pasaribu. Secara biadab, kepala Kapten Bongsu Pasaribu dipancung dan kemudian dipertontonkan keliling Barus, suatu hal yang sebenamya tidak masuk akal dilakukan suatu bangsa yang tinggi peradabannya seperti Belanda,”ujar Maraden Panggabean dalam bukunya berjudul Berjuang dan Mengabdi yang dirangkup warta viral, Selasa (6/8/2019).

Menurut Maraden Panggabean, pada Tahun 1946, pangkatnya saat itu adalah Kapten sama seperti.Kapten Bongsu Pasaribu. Maraden Panggabean pangkatnya naik satu tingkat menjadi Mayor, menjabat Kepala Staf Resimen I Divisi VI Sumatra berkedudukan di Sibolga.

Sedangkan Bongsu Pasaribu Kepala Staf Batalyon TRI dengan pangkat Kapten pimpinan Mayor Pandapotan Sitompul dengan wakilnya Letnan Muliater, Simatupang ditugaskan untuk menjaga derah Barus dan Sorkan yang sewaktu RE & RA tidak masuk dalam formasi lagi. Setelah di Sorkam – Barus mereka ini di rencanakan segera dikonsentrasikan di Sibolga kembali, ujarnya.

Kapten Bongsu Pasaribu juga ditugaskan untuk menjaga kediaman Gubernur Militer dr.F. Lumban tobing, pengamanan beliau berada di Kesatuan Sektor IV. Bunkernya dr. Lumbang Tobing beserta keluarga berada di sekitar Sipakpahi (Kolang).

Kata Maraden, Jalanraya Sibolga-Tarutung, Sibolga-Batangtaru dan Sibolga- Barus, dalam satu minggu dilalui minimal dua kali oleh konvoi Belanda, satu kali keluar dari Sibolga dan satu kalilagi masuk ke Sibolga.

Susunan suatu konvoi pada umumnya ialah: sebagai kawal depan satu kendaraan berlapis bajayang dipersenjatai dengan senapan mesin berat/ringan dan langsung dibelakangnya satu kendaraan pengawal dan kemudian diikuti oleh kendaraan sipil/swasta. Konvoi akhirnya ditutup oleh kendaraan pengawal. Adakalanya diadakan pengawalanyang lebih kuat, yang membawa mortir dan ditengah-tengah konvoi ditambah lagi satu kendaraan pengawal.

Kata Maraden, saya mengunjungi daerah Raum V (Poriaha) dan VI (Barus) Setelah saya yakin, bahwa operasi terhadap konvoi sepanjang Bonandolok- Aek Raisan sudah dapat berjalan dengan baik, malahan dapat lebih ditingkatkan lagi, maka saya ingin agar operasi terhadap konvoi sepanjang jalan Sibolga-Barus pun semakin meningkat Untuk itu akhir bulan Maret 1949 saya mengunjungi Raum V di Poriaha dibawah pimpinan Letnan Bangun Siregar dan Letnan Maruap Simorangkir. Saya ajak mereka untuk mengadakan penghadangan gabungan dengan pasukan ALRI yang masih ada disekitar Poriaha.Setelah berunding seperlunya dengan ALRI, maka penghadangan gabungan pasukan Sektor IV dan Sektor S ini langsung akan saya pimpin.Tempat penghadangan yang saya pilih ialah daerah Penjaringan, kira-kira empat atau lima kilometer dari Poriaha arah Barus.

Di tempat ini, jalan raya setelah meninggalkandataran pantai di Poriaha, langsung berkelok-kelok mendaki suatu bukit sampaibeberapa ratus meter dan kemudian menurun kembali ke dataran pantai dekatHutaimbaru di balik bukit Hutannya lebat dan tidak ada lahan pertanian.

Dalam penghadangan ini pun, perasaan kesal timbul dalam hati saya seperti yang timbul pada Proklamasi dan Perjuangan Kemerdekaan setiap kali diadakan penghadangan di manapun, yaitu, bahwa “jatah peluru”menghalangi kami untuk betul-betul memukul dan menghancurkan konvoi.

Namun akhirnya saya bersuka-cita juga, melihat pasukan- pasukan kita menjadi gagah dan mempunyai kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Saya masih menyempatkan diri mengunjungi “bengkel peluru” si Markus dan si Manap (dua orang Jepang bekas Legiun Penggempur) dibawah pimpinan Barita Siregar.

Kemudian saya kembali ke bunker. Di sana telah menanti berita tentang akan datangnya pasukan-pasukan dari Aceh,kira-kira satu batalion di bawah pimpinan Mayor Tk Manyak dengan rencana merebut Barus. Saya tugaskan Letnan Arifin Tambunan dari staf sektor segera mendahului saya pergi ke Barus untuk menghubungi para pimpinan pasukan di sana agar penyerangan ke Barus ditunda dulu menunggu kedatangan saya selaku Komandan SektorIV. Disampingitu, mengunjungi daerah Barus sebenarnya telah lama saya rencanakan, terutama untuk melihat konsolidasi pasukan Raum VI sekitar Barus dan Sorkam. (Bersambung..)