Perang Lawan Covid-19, Industri Farmasi Berlomba-lomba Produksi Obat

Perang Lawan Covid-19, Industri Farmasi Berlomba-lomba Produksi Obat

153
0
BERBAGI

Oleh : Rekson Hermanto (Pemred Warta Viral)

Jakarta, (Warta Viral) – Angka kasus infeksi Covid-19 di Indonesia masih terus mengalami penambahan setiap harinya.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memperlihatkan bahwa berdasarkan data pada Rabu (07/10/2020) pukul 12.00 WIB ini, ada 4.538 kasus baru dalam 24 jam terakhir.
Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia kini berjumlah 315.714 orang,

Dalam perang melawan covid-19, optimisme semakin tumbuh dengan berita baik di segala lini. Dalam pekan pertama Oktober, berita baik itu ialah tingkat kesembuhan yang terus naik dan siap dipasarkannya obat covid-19 yang diproduksi di dalam negeri.
Soal tingkat kesembuhan, angkanya telah mencapai 75,27%, sementara pekan sebelumnya adalah 73,77%.

Adapun jumlah pasien sembuh per 6 Oktober 2020 mencapai 236.437 kasus, sedangkan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 311.176 dan meninggal mencapai 11.374 kasus.
Antisipasi wabah penyakit akibat virus corona, para pelaku industri farmasi berusaha mengembangkan dan mendistribusikan obat untuk mengatasi penyakit tersebut.

Beberapa jenis obat sempat dilansir Badan Kesehatan Dunia alias WHO untuk penanganan covid-19 ini.

Dexa Medica Group memproduksi obat-obatan untuk jenis Hydroxychloroquine 200 mg yang awalnya disiapkan perusahaan 100.000 tablet untuk pengobatan 5.000 pasien, menjadi 200.000 tablet untuk 10.000 pasien COVID-19.

Demikian juga donasi tahap ke II yaitu Chloroquin 250 mg, yang awalnya 240.000 tablet untuk 12.000 pasien, akan ditambah menjadi 500.000 tablet untuk 25.000 pasien Covid-19. Diharapkan dengan donasi tahap I dan II bisa untuk membantu 35.000 pasien di seluruh Indonesia.

Kimia Farma telah mampu memproduksi Favipiravir, sedangkan Indofarma memproduksi Oseltamivir 75 gr caps, dan Indofarma juga siap memasarkan Remdesivir dengan nama dagang Desrem. Favipiravir dan Remdesivir telah mendapatkan nomor izin edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Remdesivir direncanakan akan diedarkan mulai pekan depan. Ketersediaan obat-obatan ini tentunya diharapkan dapat membantu para pasien dengan gejala berat dan kritis. Di sisi lain, kabar-kabar baik ini tidak boleh menjadi pintu kejemawaan.

Sebab, seperti yang dijelaskan para ahli epidemiologi, perang covid-19 bagaimanapun ialah perang jangka panjang. Ini sebenarnya memang wajar jika berkaca pada berbagai penyakit akibat virus yang masih ada di dunia walau berabad sejak penemuannya.

Kelengahan dalam penerapan vaksin mudah sekali membuat wabah penyakit-penyakit itu kembali muncul, apalagi dalam perang melawan covid-19 yang vaksinnya belum ditemukan. Menyelisik lebih dalam soal obat-obat covid pun ahli paru telah menjelaskan jika obat-obat itu bukan tanpa efek samping.

Bahkan bagi pasien dengan kondisi ginjal dan liver yang sudah tidak optimal, penggunaan obat itu harus dihindari karena justru bisa menjadi petaka. Setali tiga uang, peningkatan rasio kesembuhan bukanlah angka terpenting. Justru, kita juga harus jujur mengakui jika acuan-acuan penting seperti rasio kematian dan tes masih belum menggembirakan.

Angka kematian covid-19 secara kumulatif ialah 10.856 orang hingga 1 Oktober ini. Persentasenya ialah 3,7%. Angka itu lebih tinggi ketimbang persentase kematian covid-19 di dunia sebesar 2,98%. Tingginya angka kematian merupakan sinyal akan masih lemahnya sisi pelacakan dan tes. Juru Bicara dan Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan Indonesia, dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa, seharusnya melakukan 267.700 tes per minggu.

Sementara itu, Indonesia baru mencapai 46,85% dari standar WHO untuk jumlah pemeriksaan. Dengan segala kondisi dua sisi mata uang ini, kita memang perlu mengerti optimisme dengan bijak. Optimisme jelas perlu dirawat dengan segala kabar pencapaian. Meski begitu, berbagai ketertinggalan yang ada, dan juga krusial, ialah hal mendesak yang harus diperbaiki. Tanpa itu, kondisi perang melawan covid-19 di Indonesia akan terus fluktuatif. Kabar gembira bisa sekadar hanya sesaat karena hal-hal krusial tidak tertangani. (***)

TIDAK ADA KOMENTAR

Comments are closed.