Menjadi Jurnalis Butuh Mental Baja dan Berani Mati

Menjadi Jurnalis Butuh Mental Baja dan Berani Mati

143
0
BERBAGI

Jakarta, (Warta Viral) – Menjadi jurnalis itu bukan tugas yang mudah. Tak mesti harus selalu berada di zona aman. Banyak tantangan dan banyak pula ancaman. Butuh mental baja jika ingin terjun ke dunia seperti ini.

Belum lagi hiruk-pikuk dunia perpolitikan, praktik korupsi dan permasalahan sosial yang harus diangkat ke masyarakat.

Apa lagi kerja jurnalis yang tak kenal waktu. Tak ada batasan seorang jurnalis harus pulang ke rumah, berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga. Tak perduli pagi, siang dan malam. Tak perduli petir, hujan dan badai, tugas meliput dan mengungkap sebuah fakta harus tetap dilaksanakan.

Tak hanya menemui kesulitan di medan peliputan, ada permasalahan pelik yang harus ditemui oleh para jurnalis. Di sejumlah negara, kebebasan pers dan jurnalisme merupakan barang langka. Masih ada sejumlah pegiat jurnalistik di sejumlah tempat di mancanegara yang terbelenggu dalam melakukan aktivitasnya.

Seperti pada kebanyakan kasus, salah satu faktor utama penyebab terbelenggunya kebebasan pers adalah, pemerintah yang tidak menghargai kebebasan bagi para jurnalis untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai corong informasi, kubu kritik pemangku kekuasaan, hingga pengungkap kebenaran untuk publik.

Menurut Pemred Harian Warta Nasional yang juga owner www.wartaviral.com, Rekson Pasaribu mengakui menjadi jurnalis itu butuh mental baja, pemberani dan tidak takut mati. “Saya nekat menjadi Jurnalis dulu, karena takut ngggak makan sebagai perantau yang mencari hidup di Jakarta, cerita Rekson.

Saya terjun kedunia jurnalis mermodalkan nyali perantau untuk menuju pembenahan diri. Jika niat telah timbul maka pantang rasanya untuk mundur, walau selangkah pun. Karena mundur adalah tanda kegagalan. Ibarat anak panah yang dihunuskan menghujam sasaran, ia tak akan pernah kembali, ia terus menembus batas dan mencapai tujuan yang ia capai.

“Maka ingatlah wahai perantau, tantangan kalian begitu besar, ada banyak kerikil yang akan kalian lalui, tetap teguhkan hati, tengadahkan dada, dan jangan pernah menyerah. Jika menjadi jurnalis jadilah jadi jurnaliss yang benar.

Demikian beratnya tantangan yang dihadapi, maka perantau harus senantiasa tetap memegang prinsip berani karena benar takut karena salah.. Sedikit banyaknya dari kita akan merasakan ini, tapi dibalik itu semua ada hikmah yang selalu terselip, cahaya setitik apapun akan selalu bisa mengalahkan kejamnya kegelapan. So let’s check it out guys.

Meninggalkan kampung halaman adalah hal yang berat. Bagaimana tidak, kita akan diperhadapkan dengan situasi yang baru, kehidupan yang baru, dan masyarakat yang baru. Ini semua menjadi tantangan tersendiri bagi seorang perantau. Dan tak jarang kita merasa jenuh, bosan, dan ingin pulang ke kampung halaman.

Siapa Rekson Pasaribu ? Pria 43 tahun ini salah seorang perantau yag berasal dari Desa Suga-Suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah yang mengadu nasib di Jakarta menjadi Jurnalis hingga menjadi Pemimpin Redaksi Harian Warta Nasional.
Sebelumnya menjadi Owner, Rekson memulai kariernya sebagai wartawan, pernah menjadi koresponden di Harian Perintis, Harian Koran5, Harian Guntur, Harian Radar Karawang, Harian M2 Media menjabat Redaktur Warta Nasional. (Wilson)

TIDAK ADA KOMENTAR

Comments are closed.