Debat Capres, Bagi Prabowo Hanyalah Ajang Emosi

Debat Capres, Bagi Prabowo Hanyalah Ajang Emosi

598
0
BERBAGI

Jakarta, (WN) – Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto terlihat emosi saat memaparkan kelemahan pertahanan Indonesia pada segmen ketiga debat Pilpres keempat di Hotel Shangri-la, Sudirman, Jakarta pusat, Sabtu (30/3/2019).

Debat kali ini rasanya berbeda. Prabowo tampil agresif. Semua disalahkan. Seolah dalam semua hal, cuma dia saja yang benar.

Dia menyalahkan TNI. Mencela para petinggi militer, yang katanya hanya memberi laporan yang menyenangkan Presiden saja. Bahkan mencurigai bahwa laporan-laporan itu cenderung palsu.

Di kepala Prabowo, Indonesia seperti sedang darurat perang. Serba kritis. Oleh sebab itu, menurutnya militer kita harus siap-siap angkat senjata. Entah, kita bakal perang sama siapa ?.

Dalam debat Prabowo menilai pertahanan Indonesia rapuh dan lemah. Prabowo terlihat emosianal saat pernyataanya ditertawakan penonton debat.

“Saya berpendapat kekuatan pertahanan kita sangat rapuh dan lemah, bukan salah bapak Jokowi, gak tahu saya, elitnya. Jangan ketawa kenapa kalian ketawa? pertahanan Indonesia rapuh kalian ketawa, lucu ya, kok lucu,” lanjut Prabowo menaggapi reaksi para penonton debat yang menertawakan pemaparannya.

Menganalisis kemarahan Prabowo, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Politik Median Rico Marbun menilai emosi yang ditunjukan Prabowo akan memunculkan bearagam presepsi masyarakat. Hal itu bisa dimkanai sebagai karakter Prabowo pemarah dan peduli.

“Kesannya sampai berani memarahi Presiden di depan umum. Bahkan sampai memarahi audience yang terdengar menertawakan tentang kekuatan rudal Indonesia,” kata Median.
Sementara menurut Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto menyebutkan.

“Pak Prabowo kalau saya lihat, beliau terjebak pada berbagai persoalan masa lalu, pada persoalan yang diungkap sejak tahun 2009.

Di situ Pak Prabowo menunjukkan bagaimana seorang pemimpin seharusnya mampu mengendalikan emosi daripada menyatakan kepada audiens, menghardik audiens,” kata Hasto.

Padahal seorang pemimpin, sambung Hasto, perlu merangkul dan tidak emosional. Pemimpin juga disebut seharusnya tidak terjebak masa lalu.

Mengenai karakter pemarah, menurut Dr. Helen Stokes Lampard dari Royal College of General Practitioners dan Dr. Neil Gittoes, seorang ahli endokrinologi di University Hospitals Birmingham and BMI the Priory Hospital, Birmingham mengatakan mudah marah disebabkan hipertiroidisme, obat kolesterol, diabetes, depresi,, autisme, alzheimer, obat tidur.

TIDAK ADA KOMENTAR

Comments are closed.